pornografi bukanlah semata musuh para tokoh agama semata. Bahkan sebenarnya, yang paling berkepentingan adalah keluarga dan orang tua.
Esensi persoalannya adalah, kriminalitas dan dekadensi moral (utamanya karena efek pornografi) berujung membludaknya pornoaksi semakin merajalela.
Ini dikarenakan akibat dilanda "polusi keimanan dan moral" penghuni negeri yang mayoritas hanya dalam kuantitas dan minoritas kualitasnya ini. Tentu saja, ini karena aspek hedonisme, juga ditopang oleh derasnya sekularisme, liberalisme, pluralisme dan "saudara-saudaranya" disertai berbagai kepentingannya itu.
Dr. Albert Schweitzer dalam bukunya ‘Cultural Philosofhy’ (1923), bahwa pembentukan seni dan budaya manusia harus didasari dengan akhlak.
Sebab akhlak (ajaran agama) adalah modal utama untuk membentuk lurusnya seni dan budaya manusia beradab, sekalian menjauhkan manusia dari kebiadaban.
Memang aneh di Negara kita ini. Semua orang berebut ingin jadi artis, sehingga kavling artis hampir tak tersisa, kecuali artis pinggiran.
Maraknya kontes audisi adalah bagian nyata dari gejala bagaimana generasi muda-mudi Indonesia berbut mimpi menjadi artis atau selebritis.
Itu juga nampak dalam gambaran cerita di setiap sinetron kita. Yang menganggap popularitas, kemewahan fasilitas hidup (tak peduli duit halal atau haram) adalah target akhir kehidupan. Menggelikan, naif dan memilukan!
Mereka berargumentasi, itu adalah media kreativitas potensi generasi bangsa. Sejatinya membekukan generasi bangsa diusung tumbuh-berkembang tanpa intelektualitas.
Berawal dari "gelar selebritisnya" itu pula otomatis galak menggiring publik ke dalam lobang ranjau hedonisme, melalui berbagai acara yang diperankan dan dieksposnya melalui berbagai media massa.
resikonya, tak sedikit remaja putri "melacurkan diri gratis" kepada orang yang mengiming-imingi dirinya akan diekspos sebagai artis. "Luar biasa"!
Utamanya fenomena sangat memprihatinkan, adalah dunia lingkup tunas-tunas bangsa dalam gejolak globalisasi ini. Padahal generasi muda adalah mahkota suatu bangsa.
Dr. Edward Gibbon, sejarahwan terkenal pun telah menyimpulkan dalam bukunya, "Roman Empire''(1776). Penyebab utama hancurnya kejayaan imperium Romania, karena pada waktu itu manusia-manusianya telah sangat jauh dari nilai-nilai agama dan moralitas. Diantaranya mereka terlena dengan kemewahan dunia yang berlebih-lebihan (hedonis), dan berbagai sikap serta tindakan amoral-asusila lainnya.
Akan dibawa ke manakah bangsa kita ini? Jika totalitas bangsa kita dibiarkan dengan kondisi kehancuran akhlak, dengan berbagai aspeknya, tentu tinggal menunggu saat kehancurannya saja.
Kamis, 06 Oktober 2011
Minggu, 14 Agustus 2011
Mohon Petunjukmu
Terkadang aku tak mengerti, apa awal, sedang, dan akhir jalan yang ku lalui ini.
aku tak tau apa yang terjadi nantinya, ketika nafas ku, jantung ku, nadi ku tak lagi berdetak. Ketika aku terbuai oleh kesenangan duniawi, ketika dosa tak terpikirkan lagi oleh ku, ketika aku terjerumus dalam jurang kesengsaraan tanpa sanggup tuk keluar dari penderitaan itu.
Adakah orang yang akan menolong ku tuhan?
atau dapatkah aku menolong bila hal itu terjadi pada diri orang lain?
Wahai Saudaraku, Mari Kita Mengingat mati
Tiada tempat tinggal bagi seorang yang akan dihuni setelah kematiannya,
kecuali tempat tinggal yang telah dibangun sebelum kematiannya.
Jika ia membangunnya dengan kebaikan, maka indahlah (tempat tinggal) itu,
namun jika ia bangun dengan keburukan dosa-dosa, niscaya merugilah pemiliknya.
Jiwa seseorang itu selau mencintai dunia, padahal ia tahu
bahwa zuhud didunia adalah dengan meninggalkannya
maka,tanamlah pokok ketaqwaan itu selama kamu mampu,
ketahuilah bahwa kamu akan menjumpainya setelah kematianmu.
Sesungguhnya Allah disisi-Nya ilmu (tentang) kiamat, dan Dia menurunkan hujan dan mengetahui apa-apa dalam rahim. Dan tiada seorang mengetahui apa yang akan dikerjakan besok dan tiada seorang mengetahui dibumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi Maha Teliti. (Al-Luqman: 34)
Langganan:
Komentar (Atom)